Nilaisaham.com – Setelah resmi mengakhiri shutdown pada Kamis (13/11), perhatian global tertuju pada spekulasi suku bunga The Fed atau Bank Sentral AS. Spekulasi ini terkait dengan peluang bank sentral akan memangkas suku bunga kembali atau tidak. Keputusan ini akan menjadi Keputusan yang paling dinantikan oleh investor. Dipangkas atau tidak suku bunga The Fed akan menentukan pilihan Keputusan investasi dan pengelolaan asset. Banyak spekulasi telah bermunculan. Nilaisaham.com mengulas peluang tersebut dengan menyajikan berbagai bukti yang relevan.
Kebijakan Suku Bunga The Fed
Bank Sentral AS menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober 2025 lalu. Penurunan ini adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh banyak pihak. Saat itu, shutdown sedang berlangsung. Tingkat inflasi masih tinggi. Angka pengangguran juga masih tinggi. Pelonggaran fiskal sangat diperlukan dengan memangkas suku bunga.
The Fed sendiri merencanakan akan kembali memangkas suku bunga tersebut pada rapat 9-10 Desember 2025. Namun, kondisi drastis terjadi minggu lalu. Shutdown berakhir. Ekonomi AS memasuki fase pemulihan. Apakah, suku bunga The Fed akan dipangkas lagi pada Desember atau tidak? Berikut 6 faktor penentunya.
1. Preferensi Terbelah
Data dari Fedwatch per hari ini (17/11) menunjukkan bahwa peluang The Fed akan memangkas suku bunga lagi pada Desember 2025 hanya mencapai 55,6%. Angka ini adalah angka terendah. Pada Oktober 2025, sebelum melakukan pemangkasan, skor keyakinan trader pasar uang mencapai 70%.
Data ini mengindikasikan adanya ketidakpastian suku bunga akan dipangkas lagi pada Desember 2025. Para investor dan bursa di seluruh dunia akan menghadapi reaksi pelaku pasar pada minggu ini akibat adanya ketidakpastian ini.
2. Inflasi Masih Tinggi
Kondisi spekulatif berdasarkan data Fedwatch tersebut perlu diinterpretasikan dengan data lain. Setelah shutdown berakhir, AS segera melakukan pemulihan. Salah satu agenda pemulihan yang penting adalah mengatasi angka pengangguran.
Persoalan ketenagakerjaan memiliki 2 dimensi di AS saat ini. Pertama, serapan tenaga kerja yang rendah akibat shutdown yang berkepanjangan. Kedua, sektor riil, misalnya sektor pertanian masih mengalami kekurangan tenaga kerja sehingga berdampak pada produktivitas dan inflasi. Tenaga kerja tersebut terdampak oleh kebijakan imigrasi dan shutdown.
3. Tingkat Pengangguran Masih Tinggi
Angka pengangguran di AS masih mencapai 4.3% dari bulan lalu yang mencapai 4.2%. Menaikkan suku bunga tentu akan kontra-produktif dengan agenda pemulihan ekonomi. Suku bunga rendah tetap diperlukan untuk memberikan dukungan kepada kelas pekerja yang menganggur sebagai konsekuensi shutdown.
Mempertimbangkan kondisi ini, besar kemungkinan pengurangan suku bunga akan diteruskan untuk mempercepat serapan tenaga kerja. Atau, bisa juga suku bunga tetap dipertahankan jika pemerintah memiliki solusi non-fiskal untuk mengtasai angka pengangguran ini.
Baca Juga: Shutdown Pemerintahan AS Berakhir: 5 Reaksi Pasar Yang Perlu Dicermati!
4. Tingkat Inflasi Masih Tinggi
Inflasi saat ini di AS masih berada pada angka 3%. Tingkat inflasi ini masih di atas target bank sentral yaitu 2%. Mempertahankan suku bunga tidak akan membantu untuk menekan inflasi. Jadi, dari perspektif inflasi, maka masih ada peluang suku bunga untuk dipangkas pada Desember 2025.
Penelitian Goldman Sachs memperkirakan masih akan ada pemotongan pada Desember 2025. Banyak sektor ekonomi masih lesu. Diperlukan waktu dan suku bunga lebih rendah untuk menggairahkan kembali sektor-sektor tersebut.
5. Menunggu Data Resmi
Terbatasnya data untuk menjadi dasar pengambilan keptusan menjadi salah-satu faktor yang perlu dipertimbangkan. Saat ini, banyak pihak masih menunggu data resmi pemerintah untuk mengambil keputusan. Data-data yang beredar saat ini memerlukan validasi atau verifikasi lebih lanjut.
Sepanjang fase jeda atau shutdown, AS mengalami kesulitan untuk memperoleh akses data pemerintah yang handal sebagai dasar pengambilan keputusan. Rilis data resmi khususnya untuk tingkat pengangguran, serapan tenaga kerja sectoral misalnya sektor pertanian yang sangat terdampak shutdown, dan tentu saja tingkat inflasi.
6. Fundamental dan Pertumbuhan Ekonomi Masih Kuat
Fundamental ekonomi AS yang tetap kuat dan retorika hawkish Fed menunjukkan bahwa bank sentral mungkin melakukan jeda untuk memangkat tingkat suku bunga. Optimisme sangat terlihat pada ekonomi AS. Pertumbuhan PDB tetap Tangguh.
Proyeksi The Fed Atlanta memproyeksikan angka pertumbuhan akan mencapai kuartal ketiga 2025. Proyeksi ini tidak berubah dari proyeksi sebelumnya. Pertumbuhan PDB tahunan juga diperkirakan berada pada 2,1%. Angka pertumbuhan PDB ini mengindikasikan pertumbuhan yang berkelanjutan. Jadi tidak memerlukan pelonggaran suku bunga.
Keyakinan The Fed pada Pertumbuhan Ekonomi
Persepsi The Fed pada data-data inflasi, posisi terhadap tingkat pengangguran, dan keyakinan pada angka pertumbuhan ekonomi akan menentukan keputusan lanjut atau tidaknya pemangkasan suku bunga The Fed. Hingga hari ini, kedua skenario adalah mungkin. Jika The Fed bersikap progresif dan meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi akan mampu menyelesaikan masalah ketenagakerjaan, maka pemangkasan mungkin tidak akan terjadi.
Sebaliknya, jika The Fed memandang bahwa pertumbuhan tidak dapat menyelesaikan inflasi dan pengangguran maka pemangkasan masih berpeluang. Artinya, keyakinan The Fed pada kapasitas pertumbuhan ekonomi saat ini untuk memecahkan persoalan krusial tersebut akan menjadi faktor penentu.***































One Comment