shutdown pemerintahan AS

Shutdown Pemerintahan AS Berakhir: 5 Reaksi Pasar Yang Perlu Dicermati!

Nilaisaham.comShutdown pemerintahan AS berakhir pada 13 November 2025. Presiden AS, Donald Trump, melakukan  Penandatanganan Undang-Undang Pendanaan Kesehatan Sementara adalah symbol berakhirnya jeda pemerintahan tersebut.  Momentum itu sangat penting bagi investor dan pelaku pasar modal mengingat kuatnya pengaruh ekonomi AS pada arus kapital dan investasi internasional. Simak 5 reaksi pasar atas berakhirnya shutdown tersebut pada pasar modal di AS, pasar modal Indonesia, harga komoditas, dan arus keluar dan masuk investasi asing di Bursa Efek Indonesia.

Apa Itu Shutdown Pemerintahan AS?

Gagalnya Kongres Amerika Serikat mencapai kesepakatan untuk meloloskan undang-undang kesehatan telah memicu terjadinya jeda pada pemerintahan federal di Amerika Serikat. Kejadian itu dimulai pada 1 Oktober 2025. Kubu Partai Demokrat menuntut subsidi kesehatan dimasukkan dalam undang-undang tersebut. Tuntutan tersebut tidak berhasil memperoleh dukungan dari Partai Republik. Akibatnya, kongres gagal mencapai kesepakatan. Efeknya, pemerintahan tutup sementara hingga kesepakatan tercapai.

Penutupan pemerintahan yang berlangsung selama 43 hari tersebut menimbulkan efek beragam pada perekonomian global maupun domestik. Selama shutdown, harga emas mengalami kenaikan.  Nilai tukar bank sentral – The Federal Reserve Bank – di Amerika Serikat diturunkan hanya 4.25% hingga akhir shutdown. Bursa saham di luar AS menguat sebagai imbas dari perpindahan kapital asing ke bursa-bursa non-AS.

Indeks S&P 500 Sideways.

Respon pasar modal di AS pada berakhirnya shutdown di AS teramati dari pergerakan indeks S&P 500 di Walstreet. Pelaku pasar modal merespon dengan berhati-hati. Sikap berhati-hati masih mendominasi perilaku investor di bursa.

Banyak faktor yang menyebabkan sikap berhati-hati atau menunggu tersebut. Keterbatasan data adalah salah satunya. Selama penutupan pemerintahan, akses pada data ekonomi, inflasi, maupun ketenagakerjaan relatif terbatas. Di sisi lain, akhir shutdown telah terprediksi sebelumnya. Artinya, investor dan pelaku pasar modal telah mengambil posisi jauh sebelumnya sehingga tidak menghasilkan efek lonjakan pada S&P500.

Harga Emas Turun

Sentimen negative juga terjadi pada investor yang menempatkan asetnya pada emas. Harga emas internasional mencapai angka tertinggi yakni USD 4229/troy ounce pada 13 November 2025. Koreksi tipis mulai terjadi pada 14 November 2025 menempatkan harga emas dunia pada USD 4184 per troy ounce. Dan penurunan kembali terjadi pada 15 November 2025, dengan tingkat harga mencapai USD4095 per troy ounce.

Baca Juga: 4 Saham Emiten Emas Ini Kompak Naik Saat Harga Emas Melonjak: Bagaimana Strategi Investasinya?

Di pasar domestic, harga emas ANTAM juga menunjukkan pola serupa. Harga naik mencapai Rp2,396 juta per gram pada 13 November 2025. Sehari kemudian, harga emas ANTAM naik tipis mencapai Rp 2,398 juta per gram. Harga mulai turun pada 15 November 2025, dengan harga per gram mencapai Rp 2,348 per gram.

Nilai Suku Bunga Bank Sentral AS

Bank Sentral AS – The Federal Reserve – telah memangkas suku bunga 25 basis poin pada Oktober 2025 lalu dengan target suku bunga 3,75% – 4,00%. Longgarnya suku bunga ini adalah bagian dari Upaya The Fed untuk mengurangi tekanan ekonomi yang ditimbulkan oleh efek dari shutdown.

Shutdown memiliki 2 kemungkinan efek pada Tingkat suku bunga The Fed. Pasar AS sesungguhnya sedang mengantisipasi apakah The Fed akan kembali melakukan pelonggaran suku bunga pada Desember 2025 atau mulai menguatkan suku bunga. Berakhirnya shutdown nampaknya akan membuka peluang tingkat suku bunga akan dipertahankan asalkan factor-faktor seperti inflasi dan angka pengangguran segera menurun.

Bursa Saham Domestik

Bursa saham Indonesia nampaknya tidak terpengaruh signifikan dengan berakhirnya shutdown di AS tersebut. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan 13 Oktober 2025 berada pada Rp8.370. Pelaku pasar modal nampaknya telah mengantisipasi momen tersebut. Ini terlihat dari IHSG yang konsisten merah pada perdagangan pekan ini.

Tekanan jual cenderung mendominasi sehingga IHSG tertekan. Besar kemungkinan tekanan jual ini adalah aksi profit taking untuk mengamankan keuntungan oleh investor dan trader untuk antisipasi kemungkinan. Daya topang IHSG yang cukup kuat berkontribusi menjaga IHSG sehingga tetap resisten.

Arah Pasar Pasca Shutdown

Secara umum pelaku pasar masih menunggu perkembangan setelah shutdown di AS dinyatakan berakhir. Reaksi pelaku pasar modal di AS yang masih berstatus menunggu terjadi karena terbatasnya data bagi pelau pasar modal akibat shutdown yang cukup panjang. Namun, reaksi antisipatif teramati secara jelas di pasar emas. Koreksi yang terjadi mengindikasikan bahwa risiko ketidakpastian telah mulai berkurang .***

Tagged:
nilai saham
error: