ipo bank digital superbank

IPO Bank Digital Superbank: 7 Informasi Sebelum Ikut Serta

Nilaisaham.comIPO Bank digital Superbank sedang berlangsung sejak minggu lalu. Ini adalah emiten kedua yang dilakukan pada penghujung 2025. Berdasarkan nilai target pendanaan yang mencapai Rp 440 miliar rupiah, maka IPO ini tergolong jumbo. Simak profil Perseroan ini, kondisi keuangan, proyeksi keuntungan, dan risiko-risiko yang berpotensi mempengaruhi kinerja investasi di Perseroan ini.

Apa itu Superbank?

Superbank  –atau SUPA –adalah sebuah perseroan yang bergerak di bidang keuangan digital. Perseroan berdiri sejak 1993 dengan nama PT Bank Fama International di Bandung. SUPA adalah salah satu bank digital terkemuka di Indonesia. Produk-produknya inovatif karena mengedepankan teknologi, inklusi keuangan, dan inovasi. Dalam operasionalnya, SUPA mengintegrasikan sistem keuangannya secara terintegrasi dengan platform keuangan digital terbesar seperti Grab, OVO, Emtek, Singtel, dan KakaoBank.

Sejak rebranding sebagai bank digital pada 2023 dan resmi beroperasi pada Juni 2024, jumlah nasabah SUPA telah mencapai juta. Total nilai pinjaman dari nasabah tersebut mencapai Rp8,3 triliun per 30 Juni 2025. Produk-produk perseroan mencakup rekening tabungan yang fleksibel, deposito dengan imbal hasil tinggi, serta produk tabungan digital Saku dan Celengan yang berbasis tujuan dan bersifat otomatis. Perusahaan juga menyediakan kredit tanpa agunan dengan persetujuan instan dan syarat fleksibel.

Porsi Kepemilikan Masyarakat

Superbank akan melepas 13% saham miliknya kepada masyarakat melalui mekanisme IPO ini. Jumlah unit saham yang ditawarkan mencapai 4.406.612.300 lembar saham. Dari IPO tersebut, Perseroan mentargetkan untuk mengumpulkan dana mencapai Rp440 miliar rupiah.

Alokasi Untuk Modal Kerja dan Belanja Modal

Dana yang dikumpulkan dari IPO Bank Digital Superbank dari penawaran dari jumlah saham yang ditawarkan akan dialokasikan untuk 2 tujuan Perseroan. Pertama, 70% dana hasil IPO akan dimanfaatkan sebagai modal kerja untuk penyaluran kredit. Meningkatnya penyaluran kredit akan meningkatkan profitabilitas SUPA.

Kedua, 30% anggaran akan dialokasikan untuk belanja modal guna mendukung kegiatan perseroan. Belanja modal yang dimaksud mencakup pengembangan produk dan teknologi informasi. Alokasi 30 persen ini juga untuk belanja modal lain yang tujuannya untuk mendukung pertumbuhan Perusahaan.

Posisi Keuangan Meningkat

Jumlah asset SUPA meningkat 23,40% dari 11,39 triliun pada 2024 menjadi 14,87 triliun pada 2025. Baik liabilitas maupun ekuitas Perseroan mengalami peningkatan. Nilai ekuitas meningkat dari 5,25 triliun menjadi 5,33 triliun. Nilai liabilitas juga meningkat. Pada 2024, nilai liabilitas mencapai 6,15 triliun. Nilai ini meningkat menjadi 9,55 triliun pada 2025.

Data ini menunjukkan bahwa nilai liabilitas meningkat lebih tinggi dibandingkan dengan nilai ekuitas. Nilai ini tentu tidak bermasalah karena 88,24% atau setara dengan Rp8,42 triliun adalah simpanan nasabah. Ini menyebabkan nilai liabilitas yang tinggi adalah kondisi yang wajar bagi sektor perbankan seperti SUPA.

Baru Mencetak Laba dan Masih Rugi

Laporan rugi laba yang dituangkan pada prospketus menunjukkan bahwa SUPA baru mencetak laba pada 2025. Perseroan masih mengalami kerugian pada Desember 2024 sebesar 366,37 miliar.  Keuntungan baru diraih pada 2025 yang nilainya mencapai 20,51 miliar.

Jika keuntungan 2025 dibandingkan dengan kerugian 2024, maka secara keuangan, perusahaan ini masih rugi karena keuntungan pada 2025 masih lebih rendah dibandingkan dengan kerugian 2024.

Baca Juga: 4 Hal tentang Penawaran Perdana Saham Merdeka Gold Resources: Beli atau Nanti Dulu?

Keunggulan Yang Ditawarkan

Superbank atau SUPA menyampaikan beberapa keunggulan yang dimiliki untuk dipertimbangkan oleh para peserta IPO. Perseroan bergerak disektor keuangan digital khususnya bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). SUPA mengidentifikasikan peluang dari 32,1 juta UMKM yang belum terintegrasi dalam sistem keuangan digital. Hingga 2026, kebutuhan pembiayaan UMKM diproyeksikan mencapai hingga Rp4.300 triliun. Kapasitas pembiayaan saat ini hanya mencapai 44% dan masih ada peluang pembiayaan hingga 56%. Celah inilah yang menjadi prospek yang dibidik oleh SUPA.

Kemampuan dan pengalaman untuk melunurkan produk-produk inovatif juga menjadi andalan pada strategi bisnis SUPA. Emiten ini telah berpengalaman mengembangkan produksi-produk keuangan digital berbasis Artifiial Inteligence, sehingga menjadikannya salah satu pemain penting pada sektor ini di tanah air.

Risiko Kemitraan dan Aplikasi AI

Imbal hasil investasi jangka panjang pada bank digital ini akan ditentukan oleh beberapa faktor risiko. Pertama, distribusi produk SUPA selama ini sangat bergantung pada kemitraan dengan Grab dan OVO. Dinamika relasi antara perseroan dengan kedua mitranya tersebut akan berdampak pada keuntungan perseroan. Secara khusus, jika terjadi merger antara Grab dengan perusahaan lain, maka hal tersebut akan berdampak pada profitabilitas kinerja saham perseroan.

Sistem keuangan digital sangat bergantung pada kemampuan menguasai perkembangan teknologi AI dan machine learning. Perseroan menyatakan bahwa kemampuan beradaptasi pada perkembangan teknologi ini akan menentukan keuntungan investasi di masa yang akan datang.

Informasi Teknis IPO

Jika tertarik untuk ikut berpartisipasi pada IPO ini, ada beberapa tanggal penting yang harus diperhatikan. Masa penawaran awal dari 25 November – 1 Desember 2025. Tanggal efektif 8 Desember 2025. Masa penawaran umum perdana saham akan berlangsung dari 10-15 Desember 2025.  tanggal penjatahan: 15 Desember 2025.  Distribusi saham secara elektronik akan dilakukan pada 16 Desember 2025. Dan, pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia: 17 Desember 2025.***

Tagged:
nilai saham
error: