Nilaisaham.com –Harga minyak naik pada 3 hari perdagangan di penghujung tahun 2025. Meskipun produksi minyak mentah pada Desember 2025 berada pada kondisi surplus, tetapi sejak 16 Desember 2025 harga minyak naik tipis. Brent naik ke level USD 62,47 dan WTI ke level USD 57.84. Apakah ini indikasi akan adanya reli panjang harga minyak hingga awal 2026 atau fenomena sesaat yang akan kembali normal di awal tahun?
Dunia Sedang Surplus Minyak
Dunia saat ini sedang berada pada kondisi surplus minyak. Data terbaru yang dirilis oleh Badan Energi International (IEA) Desember 2025, total pasokan global mencapai106,2 sampai 107,5 juta barel per hari. Angka tersebut jauh lebih tinggi daripada permintaan yang hanya mencapai 103,8 hingga 104,2 juta barel per hari. Artinya, ada kelebihan pasokan sekitar 2,4 hingga 3,3 juta barel per hari.
Kelebihan pasokan ini seharusnya cukup untuk menstabilkan harga minyak di pasar internasional. Asosiasi negara-negara produsen minyak, (OPEC+) juga menunda rencana menaikkan produksi pada Januari hingga Maret 2026 untuk menjaga stabilitas harga minyak ini.
Pengaturan produksi ini akan terus dilakukan oleh OPEC+ agar harga minyak berada pada kisaran psikologis USD 55 per barel.
Intervensi Jaringan Distribusi
Harga minyak naik pada 2 hari terakhir adalah anomali di Tengah surplus cadangan minyak. Faktor geopolitik berkontribusi lebih tinggi dibandingkan faktor produksi dan permintaan. Ketegangan antara AS dan Venezuela telah merambat menjadi tindakan pencegatan kapal tanker pengangkut minyak.
Tiga kapal tanker telah dicegat pada dua pekan terakhir sejak 10 Desember 2025. Kapal tanker Skipper membawa 1,85 juta barel minyak mentah Venezuela mengalami pencegatan di perairan internasional di lepas pantai Venezuela.
Pencegatan berlanjut pada 20 Desember 2025. Kapal tanker Centuries membawa 1,8 – 2,0 juta barel minyak tujuan Tiongkok juga ditahan. Sedangkan pada 21-22 Desember 2025, terjadi pengejaran tanker Bella 1 yang diduga adalah shadow fleet yang membawa minyak dari Rusia.
Intervensi pada jaringan distribusi minyak ini jelas meningkatkan risiko pada harga minyak. Secara kuantitatif, risiko tersebut menyebabkan harga minyak naik sekitar USD 1,00 – USD 1,50 pada harga per barel.
Kendati kontribusi Venezuela pada pasokan global kurang dari 1%, risiko akibat ketegangan antara AS dan Venezuela yang berdampak pada intervensi jalur distribusi ini menyebabkan harga minyak naik.
Baca Juga: 28 Poin Kesepakatan Damai Trump: Akankah Perang Rusia-Ukraina Dapat Diakhiri?
Momentum Bullish Jangka Pendek
Analisis teknikal perkembangan harga minyak ini menunjukkan kondisi momentum bullish jangka pendek. Relative Strength Index menunjukkan adanya permintaan beli yang kuat namun permintaan beli tersebut belum menyentuh angka overbought. Masih terdapat peluang harga minyak naik hingga uSD 1 sebelum mencapai titik jenuh jual.
Positive Crossover juga teramati pada pergerakan rata-rata harga. Kondisi ini mengindikasikan masih akan terjadi reli harga selama 3 sampai 5 hari ke depan. Pergerakan harga juga sedang menguji EMA 50. Jika WTI mampu bertahan di atas USD 58,70, maka tren jangka pendek akan resmi berubah dari bearish menjadi neutral-bullish.
Implikasi Pada Saham Energi
Pergerakan minyak ini berdampak langsung pada emiten pada sektor energi. Dampak pergerakan harga ini akan bervariasi tergantung tingkat korelasi antara emiten tersebut pada pergerakan harga minyak global.
Saham MEDC bergerak sideways cenderung bullish di area 1.280 – 1.330. MEDC memiliki korelasi medium dengan harga Brent. Jika Brent stabil di atas USD 62, maka besar kemungkinan MEDC akan naik.
Saham ENRG menjadi top performer minggu ini dengan volume perdagangan yang meningkat. Tingkat korelasi ENRG dengan harga minyak tergolong tinggi sehingga memicu pergerakan harga yang cenderung bullish.
Saham ELSA cenderung sideways. ELSA biasanya bergerak lebih lambat karena korelais dengan harga minyak yang cenderung rendah. Jika harga minyak bertahan pada level saat ini, maka saham ini berpeluang untuk breakout.
Fenomena Jangka Pendek
Harga minyak naik saat ini bukan disebabkan oleh kurangnya pasokan. Ketegangan yang terjadi di Laut Karibia antara Amerika Serikat dan Venezuela menjadi faktor utama yang menyebabkan naiknya risiko distribusi. Oleh sebab itu, tingkat ketegangan di Karibia tersebut akan menjadi penentu apakah harga minyak akan stabil atau akan mengalami kenaikan lebih lanjut.
Namun, mengingat pasokan yang cenderung surplus, maka reli harga minyak hanya akan menjadi fenomena jangka pendek. Kenaikan harga yang drastis tidak akan terjadi karena pasokan yang berada pada kondisi surplus.***































One Comment