harga emas

4 Faktor Penentu Harga Emas Di Akhir Pekan: Koreksi Wajar atau Reversal?

Nilaisaham.com – Fluktuasi harga emas menimbulkan eforia dalam dunia investasi sebulan terakhir. Harga emas yang naik  sejak 20 Agustus 2025 dan mencapai harga tertinggi pada 16 Oktober 2025, terkoreksi 1,77% pada Jumat (17/10). Koreksi ini mengindikasikan masih kuatnya ketidakpastian pada bursa saham maupun aset investasi lainnya. Pergerakan harga ini tentu memunculkan pertanyaan penting: apakah perubahan itu adalah koreksi biasa atau akan terjadi reversal? Nilaisaham.com kali ini mengulas fenomena tersebut untuk memastikan apakah pergerakan harga emas pada Sabtu (18/10) adalah koreksi biasa atau titik balik pergerakan harga komoditas ini?

Potensi Pemangkasan Suku Bunga

Pernyataan Jerome Powell dalam pidatonya di pertemuan tahunan National Association for Business Economics (14/10) menyiratkan indikasi kuat bahwa Bank Sentral AS akan memangkas suku bunga lebih lanjut. Ekonomi AS yang menunjukkan tanda-tanda penguatan menjadi alasan untuk memangkas suku bunga. Faktor lain, adalah  tingkat pengangguran yang masih tinggi. Suku bunga yang rendah akan membantu penyaluran kredit untuk membuka peluang kerja bagi kelompok yang menganggur.

Pelonggaran ini menjadi kabar yang telah lama ditunggu. Sejak Agustus 2025, pihak eksekutif dalam pemerintahad di Amerika Serikat telah mendorong agar pihak Bank sentral melakukan pelonggaran  Kembali suku bunga. Pada Agustus 2025 lalu, Bank Sentral masih bertahan. Pada September 2025, suku bunga diturunkan 25 basis poin, dan pada Oktober 2025, hampir pasti suku bunga akan diturunkan 25 basis poin lagi.  Tingkat kepastiannya mencapai 96%. Menurunnya suku bunga ini akan menaikkan harga emas dan meningkatkan valuasi emiten sektor pertambangan emas. Dengan demikian, koreksi yang terjadi diperkirakan adalah pergerakan harga yang dipicu oleh profit taking.

Baca Juga: Mengejutkan! 6 Saham Emiten Emas Ini Kompak Naik Saat Harga Emas Melonjak

Eskalasi Tarif AS dan China

Surat dari Pemerintah China kepada Donald Trump yang menyatakan akan membatasi ekspor mineral tanah jarang (rare earth) telah menimbulkan eskalasi baru dalam perang dagang antara kedua negara. Kebijakan tersebut membuat Trump – melalui media sosial Truth Social – menyatakan akan menambah tarif untuk produk elektronik dari China. Kebijakan tersebut sontak menyebabkan runtuhnya harga Bitcoin dan anjloknya harga saham di AS. Rencananya, tarif baru tersebut akan diberlakukan oleh Donald Trump pada 1 November 2025.

Pernyataan Donald Trump tersebut memicu naiknya harga emas ke level psikologis US$4.000 per ons pada awal Oktober 2025. Namun, kepastian pemberlakukan tarif 100% tersebut pada 1 November 2025 masih menjadi tanda tanya. Dalam wawancaranya di Fox News, Trump menyatakan bahwa tarif 100% tersebut tidak akan diberlakukan. Trump juga menyiapkan Scott Bessent untuk berdialog dengan pihak China yang dijadwalkan pada Konferensi Tingkat Tinggi APEC di Korea Selatan.  Pernyataan ini yang mungkin menjadi faktor kuat terkoreksinya harga emas pada Sabtu (18/10).

Tekanan Beli oleh Bank Sentral

Emas adalah underlying aset atau aset penyangga yang digunakan oleh bank sentral di seluruh dunia. Nilai dolar yang melemah menyebabkan bank sentral melakukan aksi beli untuk menambah cadangan emas.  Survai yang dilakukan oleh World Gold Council 2025 menunjukkan adanya akumulasi emas oleh bank sentral global.

Bank sentral di berbagai negara, termasuk China dan Rusia, terus meningkatkan cadangan emas mereka. Langkah ini biasanya diambil untuk memperkuat ketahanan ekonomi dan mengurangi ketergantungan terhadap Dolar AS. Aktivitas pembelian emas oleh bank sentral menjadi faktor pendukung harga emas di pasar global. Emas diakumulasi untuk melakukan diversifikasi aset akibat nilai dolar yang cenderung melemah. Diversifikasi ini adalah strategi terpenting untuk memperkuat nilai cadangan devisa masing-masing bank sentral.

Sepanjang 2025, terjadi aksi beli emas yang signifikan oleh beberapa Bank Sentral. Bank Sentral Kazakhtan melakukan aksi beli emas hingga 23,12 ton dari Oktober hingga November 2025. Ini adalah volume beli emas terbesar di antara bank sentral di seuruh dunia pada rentang waktu tersebut. Bank sentral lain seperti India dan RRC juga melakukan pembelian untuk melakukan lindung nilai (hedging). India mencatatkan pembelian hingga 12,1 ton dan RRC 13,9 ton untuk durasi waktu yang sama. Aksi beli ini dipastikan akan berlanjut ditengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi saat ini.

Baca Juga: 4 Emiten Bagi Dividen Interim: Bagaimana Tips Memperolehnya?

Efek Shutdown di AS

Shutdown di Amerika Serikat telah memasuki minngu ke-empat pada minggu ini. Shutdown ini dipicu oleh ketidaksepakatan atas rancangan anggaran di Tingkat parlemen. Perbandingan harga sebelum dan setelah terjadinya shutdown mengilustrasikan efek tersebut.

Hasil analisis Nilaisaham.com menunjukkan harga emas bergerak moderat pada 30 hari sebelum shutdown. Pergerakan harganya mencapai 3-4%. Pergerakan harga ini dipicu oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga pada September 2025. Kenaikan harga emas berubah drastis setelah terjadinya shutdown. Harga emas mengalami kenaikan 5-7% dalam waktu kurang dari 2 pekan. Ketidakpastian yang terjadi akibat adanya shutdown ini menyebabkan tekanan beli pada emas oleh investor untuk mengamankan penurunan nilai aset akibat ketidakpastian politik dan ekonomi.

Prediksi Minggu Depan

Bagaimana prediksi pergerakan harga komoditas ini pada perdagangan minggu depan? Analisis ke-empat faktor di atas menghasilkan kesimpulan bahwa penurunan harga jual emas pada saat ini adalah faktor koreksi biasa. Faktor koreksi tersebut lebih banyak ditentukan oleh aksi profit taking oleh investor yang melakukan pembelian komoditas ini sejak harga mengalami kenaikan. Besar kemungkinan harga emas akan kembali naik minggu depan. Dasar pertimbangannya adalah bahwa tingkat kepastian Bank Sentral AS melonggarkan suku bunga hingga 25 basis poin yang mencapai 96%.

Ketidakpastian politik di AS akibat adanya shutdown masih akan belum berakhir, sedangkan tensi akibat perang dagang antara AS dan China masih pada tahap wait-and-see karena menunggu pihak negosiator AS dan China bertemu di Korea Selatan membicarakan persoalan tarif antar kedua negara tersebut. Sedangkan, aksi beli dipastikan akan terus berlanjut. Berdasarkan pertimbangkan tersebut, reversal kemungkinan besar belum terjadi tetapi hanya koreksi harga biasa.***

Baca Juga: Private Placement Saham ENRG: Bagaimana Prospek Investasinya?

Tagged:
nilai saham
error: