Nilaisaham.com – Emiten Bank Central Asia (BBCA) pada 20 Oktober 2025 mengumumkan secara resmi rencana untuk melakukan pembelian kembali atau buy-back saham. Informasi ini tentu saja menjadi informasi menarik bagi segenap pelaku bursa. Nilaisaham.com secara khusus menyajikan ulasan kali ini terkait dengan buyback saham BBCA ini. Khusus bagi rekan trader dan investor, apa makna di balik aksi korporasi ini? Apakah ini tanda-tanda bangkitnya harga saham emiten yang telah mengalami bearish konsisten sejak September 2024 lalu?
Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai buyback saham BBCA yang baru saja diluncurkan, serta implikasinya terhadap strategi investasi dan keputusan trading. Selain itu, artikel ini juga menyajikan analisis fundamental dan teknikal terkini untuk membantu rekan trader dan investor mengambil keputusan informasi yang solid dan kredibel.
Apa Itu Buyback?
Buyback saham atau pembelian kembali saham adalah aksi korporasi yang diwujudkan dalam bentuk melakukan aksi beli saham perusahaan sendiri dari pasar terbuka. Pada konteks ini, emiten yaitu Bank Central Asia (BCA) melalukan pembelian atas sahamnya yang beredar di Bursa Efek Indonesia.
Buyback adalah sinyal positif yang layak untuk dicermati oleh rekan trader maupun investor. Suatu emiten melakukan buyback karena memiliki tujuan. Biasanya tujuannya adalah meningkatkan kepercayaan investor dan tentu saja untuk menaikkan harga saham tersebut. Buyback termasuk strategi signalling dari emiten yang mengindikasikan harga saham masih di bawah nilai wajar alias masih layak beli.
Dampak dari buyback saham BBCA terhadap pasar bisa sangat signifikan. Ketika jumlah saham beredar berkurang, earning per share (EPS) cenderung meningkat, yang pada kahirnya mendorong harga saham naik. Bagi rekan trader, buyback saham BBCA ini adalah momentum yang baik untuk entri. Bagi investor pun, nilai wajar saham yang masih layak memungkinkan untuk melakukan aksi beli untuk disimpan dalam jangka panjang.
Baca Juga: 4 Saham Emiten Emas Ini Kompak Naik Saat Harga Emas Melonjak: Bagaimana Strategi Investasinya?
Buyback Saham BBCA
Berdasarkan informasi dari BEI, nilai buyback saham BBCA direncanakan mencapai Rp5 triliun. Aksi buyback akan dimulai sejak kemarin (22/10) hingga 3 bulan.Tetapi, buyback biasanya akan dihentikan jika target nilai pembelian telah tercapai.
Minimnya sentimen positif untuk mendongkrak harga saham BBCA memang menjadi kendala bagi emiten ini. Harga saham BBCA terus menurun dari Rp10.950 per saham pada 19 September 2024 menjadi Rp7.250 pada 14 Oktober 2025. pada perdagangan hari Jumat (17/10) minlalu, saham telah melonjak naik menjadi Rp7.500 per saham.
Kurangnya sentimen positif menyebabkan saham BBCA sangat sulit untuk bangkit sebagai penyumbang IHSG. Sentimen negatif terbesar justru terjadi pada Agustus lalu. Pada saat itu beredar isu bahwa BBCA akan diakuisisi oleh pemerintah. Akibat isu tersebut, saham emiten ini merosot 1,17%.
Saham BBCA dan grup perbankan lainnya juga menjadi bulan-bulanan antar analis. Banyak analis mulai meyakini era perbankan sudah berakhir. Transformasi di pasar modal telah terjadi karena dalam banyak kasus, sektor komoditas seperti tambang, energi, dan pertanian dan emiten konglomerat mendominasi IHSG.
Baca Juga: Diserang Logam Tanah Jarang Dan kedelai: Akankah Donald Trump Bergeming?
Alasan 1: Fundamental Kuat
Buyback saham BBCA ini cukup unik karena beberapa hal. Pertama, buyback dilakukan ketika kinerja keuangan BCA solid sepanjang 2025. Per September 2025, penyaluran kredit tumbuh 7,6 persen (yoy) menjadi Rp944 triliun, sedangkan laba bersih naik 5,7 persen menjadi Rp43,4 triliun.
Kedua, dana pihak ketiga (DPK) juga meningkat 7 persen (yoy) dengan dominasi dana murah atau CASA yang tumbuh 9,1 persen menjadi Rp999 triliun. Porsi CASA terhadap total DPK mencapai 83,8 persen, menunjukkan likuiditas BCA tetap kuat.
Ketiga, penyaluran kredit yang tumbuh sehat dan manajemen risiko yang pruden menjadi modal kuat bagi BCA menjaga kepercayaan investor. Kepercayaan investor ini penting untuk mempertahankan kinerja sektor perbankan nasional menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Laba bersih, rasio kecukupan modal (CAR), dan return on equity (ROE) berada dalam kisaran sehat. Bank ini juga memiliki portofolio kredit yang terdiversifikasi dan tingkat non-performing loan (NPL) yang rendah, menandakan manajemen risiko yang efektif.
Alasan 2: Analisis Teknikal Positif
Dari sisi teknikal, harga saham BBCA saat ini berada di area support kuat sekitar Rp4.200–Rp4.300. Indikator relative strength index (RSI) pada angka 63,44. Ini menunjukkan bahwa kondisi uptrend yang cenderung menguat. Rebound juga telah terjadi sejak sepekan terakhir. Harga saham bahkan telah mengalami kenaikan beruntun sejak 17, 20, dan 21 Oktober 2025, walaupun terjadi koreksi pada 22 Oktober 2025. Jadi buyback saham BBCA ini untuk sementara memperoleh respon positif dari pelaku pasar modal.
Trader dapat mempertimbangkan strategi swing trading mengikuti pergerakan harga, sambil tetap memperhatikan sentimen pasar, tercapainya target buyback, dan kondisi ekonomi global yang dapat berpengaruh pada efek positif dari buyback ini. Tentu saja, bagi rekan trader disarankan untuk tetap selalu konsisten dengan trading plan yang dimiliki.
Proyeksi Optimis
Dengan adanya buyback saham BBCA ini, proyeksi harga BBCA dalam jangka menengah cenderung positif. Jika kondisi makro membaik dan sentimen investor pulih, harga saham BBCA berpotensi kembali ke level Rp10.000 hingga 12.000 per saham satu tahun ke depan. Investor jangka panjang dapat memanfaatkan momen ini untuk melakukan akumulasi secara bertahap.***































One Comment