Nilaisaham.com – Risiko geopolitik yang disebabkan oleh perang berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina nampaknya bergerak ke arah yang positif. Awalnya, AS merumuskan 28 poin usulan sebagai rancangan naskah kesepakatan perdamaian antara Ukraina dan Rusia. Usulan tersebut diharapkan dapat dicapai pada Hari Thanksgiving (27/11). Merespon usulan AS, Uni Eropa mengajukan 24 poin proposal tandingan. Alasannya usulan versi AS ternyata lebih menguntungkan Rusia dan mengkompromikan kedaulatan Ukraina. Kini, proses terus bergulir. Masyarakat Internasional sedang menantikan apakah perdamaian akan benar-benar dapat dicapai pada saat Thanksgiving dan konflik Rusia-Ukraina dapat dihapus dari daftar risiko geopolitik tahun ini?
Proposal Tandingan Uni Eropa
Rumusan 28 poin kesepakatan yang diajukan oleh Pemerintah AS telah menimbulkan reaksi penolakan dari berbagai pihak. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky secara jelas menyatakan bahwa kedaulatan Ukraina tidak dapat dikompromikan. Uni Eropa juga mengambil posisi sama dengan merombak usulan versi AS karena usulan tersebut dipandang lebih menguntungkan Rusia dengan mengorbankan kedaulatan dan martabat Ukraina.
Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Johannesburg, Afrika Selatan yang berlangsung dari 22-23 November 2025 menjadi momentum bagi Uni Eropa untuk merumuskan proposal tandingan. Sikap proaktif Uni Eropa ini membuat cakupan perjanjian damai yang diusulkan bukan semata tentang kedaulatan Ukraina dan kepentingan Rusia. Kepentingan NATO dan Uni Eropa menjadi faktor penting dan dominan pula dari rencana perdamaian tersebut.
Proposal tandingan Uni Eropa layak untuk dicermati untuk memproyeksikan potensi tercapainya kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina. Proposal tandingan ini cukup tegas menyatakan menghormati kedaulatan Ukraina. Posisi ini berbeda dengan proposal versi AS. Pada proposal dari Trump tersebut, kedaulatan Ukraina, nampaknya dikompromikan karena beberapa wilayah negara tersebut diusulkan untuk utuk diserahkan pada Rusia.
Baca Juga: 28 Poin Kesepakatan Damai Trump: Akankah Perang Rusia-Ukraina Dapat Diakhiri?
Persoalan Keanggotaan NATO
Invasi yang dilakukan Rusia pada Ukraina berawal pada 24 Februari 2022 yang lalu. Hingga hari ini, invasi tersebut telah berlangsung lebih dari tiga tahun. Akar persoalannya adalah keberatan Rusia atas rencana Ukraina menjadi anggota NATO. Akar persoalan ini perlu diformulasikan pemecahannya pada naskah kesepakatan yang akan diajukan.
Rancangan usulan dari AS meminta Ukraina untuk menghentikan inisiatif atau rencananya untuk menjadi anggota NATO. Rumusan ini tentu akan diterima dengan senang hati oleh Rusia karena memat solusi atas akap persoalan konflik tersebut. Proposal tandingan dari EU justru sebaliknya. Proposal tersebut tidak tegas posisinya terkait dengan keberatan Rusia yang menjadi akar penyebab konflik. Poin 7 proposal tandingan versi EU menyatakan bahwa keanggotaan NATO didasarkan pada konsensus dan hingga saat ini tidak ada konsensus tersebut.
Poin ini nampaknya sangat ambigu dan dapat menggagalkan kesepakatan damai. Poin 7 tersebut hanya menjelaskan mengenai kondisi NATO dalam kaitannya dengan sinyalemen Ukraina berencana menjadi anggotanya. Persoalannya, deskripsi atau penjelasan bukanlah formulasi yang tepat untuk sebuah kesepakatan. Seharusnya EU pada Poin 7 tersebut menyatakan komitmennya ke depan terkait dengan usulan Ukraina menjadi anggota NATO yang menjadi pemicu perang. Pernyataan atau bantahan tidak ada konsensus saat ini tidak menegaskan komitmen untuk tidak adanya konsensus di masa depan terkait dengan keanggotaan Ukraina pada NATO.
Peluang Tercapainya Kesepakatan
Kepiawaian Donald Trump dan juru damai AS untuk melihat kendala ini akan menjadi faktor penentu. NATO dan Uni Eropa adalah para pihak yang kepentingannya menjadi penentu. Oleh sebab itu, peluang kesepakatan justru ditentukan oleh Uni Eropa dan itu harus terjadi sebelum Thanksgiving.
Ambiguitas poin 7 proposal tandingan Uni Eropa ini harus dibereskan agar proposal tandingan dari Uni Eropa dapat menjadi tiket perdamaian. Pilihannya adalah sebagai berikut: Proposal tandingan telah dengan tegas menyatakan bahwa kedaulatan Ukraina harus menjadi poin utama. Persoalannya, ambiguitas Poin 7 akan membuat Rusia merasa ancaman kedaulatannya di masa depan tidak ada dalam proposal tersebut.
Baik proposal dari AS maupun EU telah sama-sama membuat kombinasi sanksi dan insentif bagi Rusia. Demikian pula dengan perlindungan kedaulatan serta upaya restorasi bagi Ukraina. Posisi dan kepentingan Rusia dan Ukraina telah dirumuskan dengan baik pada proposal tandingan tersebut.
Poin 7 proposal tandingan Uni Eropa adalah satu-satunya poin yang tidak dapat dikategorikan sebagai sebuah rencana atau komitmen. Proposal tandingan tersebut hanya mengatakan kondisi saat ini, tetapi seharusnya formulasinya diubah menjadi komitmen NATO di masa yang akan datang. Negosiasi dipastikan akan alot terkait dengan reformulasi Poin 7 ini.
Proyeksi Risiko Geopolitik
Uni Eropa dan NATO tampaknya menjadi penentu tercapainya kesepakatan. Komitmen dan posisi Uni Eropa ke depan jika Ukraina mengusulkan menjadi anggota NATO harus direfleksikan secara jelas pada Poin 7. Ambiguitas ini harus dihilangkan. Bagaimanapun juga, kesepakatan damai harus berdiri di atas posisi setara. Ketika kedaulatan Ukraina dapat tetap dihormati dan paket sanksi bagi Rusia telah dirumuskan, kejelasan sikap Uni Eropa di masa yang akan terkait upaya Ukraina menjadi anggota NATO perlu dirumuskan dengan jelas. Dengan demikian, potensi risiko geopolitik global dipastikan dapat segera memasuki fase de-eskalasi. Masyarakat internasional hanya menunggu Uni Eropa bersedia mengatasi ambiguitas itu sehingga inisiatif Donald Trump untuk mewujudkan Thanksgiving sebagai hari perdamaian antara Rusia-Ukraina dapat terwujud.***






























