Nilaisaham.com – Kebijakan yang diambil Pemerintah China untuk membatasi ekspor Logam Tanah Jarang ke Amerika Serikat memperoleh respon keras dari Presiden AS, Donald Trump. Dalam pernyataannya melalui Truth Social pada 13 Oktober 2025 lalu, Trump menyatakan akan mengenakan tarif 100% pada produk-produk dari RRC. Apakah ini pertanda akan terjadi eskalasi baru dalam perang dagang antara AS dan RRC atau justru akan terjadi deeskalasi? Lalu, bagaimana efek taktik restriksi ekpor logam tanah jarang RRC pada AS ini pada investasi?
Logam Tanah Jarang
RRC terkenal dengan sikap yang taktis menghadapi tekanan perang dagang yang diterapkan oleh Donald Trump sejak memimpin negara adidaya tersebut. Alih-alih tunduk, Xi Jin Ping justru menohok AS dengan membatasi ekspor logam tanah jarang tersebut. Hasilnya: Donald Trump meradang!
China memang memahami peta permainan. Saat ini, negara Tirai Bambu ini menguasai hingga 62% produksi dan pengolahan logam tanah jarang. China menempati posisi pertama di dunia atas penguasaan mineral ini. China memahami posisi ini. Pembatasan ekspor logam tanah jarang untuk tujuan militer ke AS dan mengamankan kebutuhan domestik akan berpotensi mematikan sektor industri strategis seperti semikonduktor, telepon pintar, hingga teknologi pertahanan.
Ancaman Tarif 100% Donald Trump
Sikap RRC yang membatasi ekspor tanah jarang ke AS ini menimbulkan reaksi keras dari Donald Trump. Sontak, Donald Trump menyatakan akan mengenakan tarif resiprokal 100% untuk produk dari RRC. Jika kebijakan ini diterapkan, RRC akan menanggung tarif antara 130 hingga 157% untuk tarif ekspor ke AS.
Faktanya, posisi tersebut berubah. Pada Jumat minggu lalu (17/10), Trump nampaknya melunak. Pernyataan di depan wartawan bahwa tarif 100% ke RRC akan “tidak berkelanjutan” mengindikasikan sikap melunak Trump. Mengapa bisa demikian?
Baca Juga: Harga Emas Di Akhir Pekan: Koreksi Wajar atau Reversal?
Impor Kedelai Dari Brazil
AS nampaknya terdesak oleh kebijakan impor kedelai yang dilakukan oleh RRC. Selain produsen utama logam tanah jarang, China juga importir dominan kedelai dari AS. Hampir 80% produksi kedelai dari sentra-sentra produksi di China bergantung pada impor RRC. Sejak Januari hingga Juli 2025, ekspor kedelai AS ke RRC telah turun 39%.
Tekanan petani dan produsen kedelai dari Midwest di AS diduga menambah rumit posisi AS dalam perang dagang ini. Bayangkan pusingnya Trump. Ia harus memilih antara memperoleh pemasukan negara dari tarif bea masuk produk RRC, tetapi pada saat yang sama mengorbankan petani dan produsen kedelai serta industri pertahanan dan strategis nasional.
Kontrol Atas Fentanyl
Tarif resiprokal 30% yang dikenakan oleh AS pada produk China agar negara tersebut melakukan kontrol terhadap ekspor fentanyl masih menjadi bagian dari agenda perundingan. RRC diduga memasok Fentanyl ke AS, naik secara langsung maupun melalui jaringan distribusi melalui negara lain. Tekanan AS agar kontrol terhadap fentanyl adalah isu pertama yang menjadi dasar Donald Trump mengenakan tarif 30% pada RRC pada minggu pertama masa pemerintahannya.
Pertemuan Geongju
Konferensi Tingkat Tinggi Negara-Negara Asia Pasifik (APEC) akan dihelat di Geongju, Korea Selatan pada 31 Oktober hingga 1 November 2025. Momen ini nampaknya digadang-gadang oleh Trump untuk melakukan pertemuan dengan Xi Jin Ping guna membahas ketegangan kebijakan perdagangan yang dilakukan keduanya. Banyak pihak berharap pertemuan tersebut akan mengurangi tensi kedua negara untuk mengurangi efek negatif kebijakan tarif dan retaliasi yang dilakukan.
Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Ngozi Okonjo-Iweala, mendorong tensi perdagangab kedua negara untuk dikurangi. Ketegangan tersebut berbiaya mahal. Perhitungan WTO menunjukkan relasi dagang seperti ini berpotensi menurunkan hingga 7% output perekonomian global. Sederhananya, banyak pihak yang dirugikan.
Peluang Deeskalasi
Menebak kemungkinan hasil pertemuan Trump-Xi Jin Ping di Konferensi APEC pada akhir bulan tersebut menjadi sangat penting saat ini. Banyak faktor menunjukkan kemungkinan bahwa AS tidak akan menerapkan tarif yang sangat keras kepada China. Banyak faktor mengindikasikan bahwa AS akan sedikit mengalah kali ini di tengah dominansi posisi RRC. Beberapa indikasi tersebut adalah:
- Pengalihan pasokan impor kedelai RRC dari AS ke Brazil dan Argentina menimbulkan kesulitan bagi petani dan produsen kedelai di AS. Kondisi ini menimbulkan persoalan ekonomi sekaligus kredibilitas politik Donald Trump.
- Shutdown dan angka pengangguran yang masih tinggi di AS akan menyebabkan Donald Trump membangun consensus yang tidak akan terlalu memberatkan RRC. Sebaliknya, RRC tetap akan sedikit melunak dan menerapkan kebijakan terukur.
- Pembatasan ekspor logam tanah jarang dan pengalihan pasokan impor kedelai ke Amerika latin menjadi taktik yang efektif bagi RRC untuk menekan secara efektif kebijakan tarif resiprokal dari AS.
Tiga faktor tersebut mengindikasikan bahwa eskalasi akan berkurang dari saat ini hingga akhir Oktober 2025. Kedua negara nampaknya akan mengintensifkan dialog-dialog pendahuluan untuk menuju perundingan tersebut.
Implikasi Pada Investasi
Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen negatif akibat eskalasi kebijakan tarif antara RRC dan AS akan melemah pada 2 pekan ke depan. Goncangan pada pergerakan harga saham akan berkurang. Kendati demikian, harga emas akan tetap melonjak karena ketidakpastian akibat shutdown di AS masih akan berlanjut sehingga memicu aksi beli logam mulia akan terus berlanjut.***































One Comment