suku bunga the fed

4 Bukti Kuat Suku Bunga The Fed Akan Dipangkas Minggu Depan (10-11 Desember 2025)

Nilaisaham.com – Keputusan untuk memperahankan atau melonggarkan suku bunga The Fed pada Desember 2025 untuk adalah momen ekonomi penting yang dinantikan oleh setiap pelaku pasar. Keputusan tersebut umumnya dijadikan referensi utama bagi fund manager, smart money maupun investor individual untuk menentukan strategi investasi dan pengelolaan portfolio. Banyak indikasi dan fakta objektif yang mengarah pada dugaan suku bunga The Fed akan dilonggarkan. Artikel kali ini mengulas indikasi dan fakta objektif tersebut, serta membahas implikasinya pada pada investasi di Indonesia.

Indikasi Pelonggaran Suku Bunga The Fed

Sidang The Fed untuk membuat keputusan tentang suku bunga akan berlangung pada 10-11 Desember 2025 mendatang. Sidang ini penting karena akan menjadi acuan pergerakan indikator investasi global.

Publikasi data ketenagakerjaan dan inflasi yang terhambat saat AS berada pada fase shutdown pemerintahan berkontribusi pada dinamika tersebut. Sepanjang November 2025, ekspektasi pasar sempat terbelah. Data Fedwatch pada November 2025 sempat menunjukkan angka 56% ekspektasi pelonggaran sedangkan 44% sisanya setuju untuk mempertahankan suku bunga the Fed.

Menjelang pertemuan The Fed pada Desember 2025, ekpektasi nampaknya mulai mengerucut. Pernyataan Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS Kevin Hassett pada wawancara dengan Bloomberg pada Jumat (05/12) juga  mengindikasikan kuatnya ekspektasi pada pemangkasan suku bunga the Fed.. Dalam wawancara tersebut, Kevin menyatakan bahwa The Fed sebaiknya memangkas suku bunga hingga 25 basis poin.

Berikut ini adalah fakta-fakta objektif yang bergerak searah dengan ekspektasi untuk memangkas suku bunga oleh The Fed minggu depan.

Inflasi Yang Terkendali akan Mendorong Pelonggaran

Fokus utama The Fed—mengendalikan inflasi—telah mencapai titik balik. Angka-angka tidak lagi menunjukkan tekanan harga yang mengkhawatirkan, melainkan tren disinflasi yang kuat. Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (Core PCE) menunjukkan angka per September 2025 berada di kisaran 2.8% (Year-on-Year).

Angka 2.8% adalah tidak hanya penurunan signifikan, tetapi potensi angka tersebut bergerak menuju target inflasi 2% akan dapat dicapai. Dari perspektif pengambilan keputusan, penurunan ini menunjukkan bahwa persoalan inflasi telah dapat diatasi.

Penurunan inflasi tidak hanya terjadi pada sektor barang tetapi juga pada sektor jasa. Kebijakan suku bunga The Fed sebelumnya telah cukup efektif untuk menurunkan inflasi pada sektor jasa sehingga The Fed memperoleh keyakinan bahwa inflasi telah dapat dikendalikan.

Kondisi ini memberikan The Fed pilihan untuk mengubah fokus kebijakan suku bunga dari instrumen untuk mengendalikan inflasi menjadi instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Spekulasi Suku Bunga The Fed: 6 Faktor Penentunya!

Tingkat Pengangguran Tinggi Memerlukan Pelonggaran

Kondisi pasar tenaga kerja yang terus memburuk menjadi dasar kuat bagi The Fed untuk melakukan pelonggaran suku bunga pada Desember 2025. Rilis pada November 2025 menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di AS masih mencapai 4.4%. Data ini mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja di AS masih menghadapi tekanan kuat.

Melambatnya Penambahan lapangan kerja bulanan (Non-Farm Payrolls) juga menjadi faktor yang berkontribusi pada tingginya angka pengangguran.  Banyak perusahaan berhenti merekrut tenaga kerja.

Data ini diperkirakan menjadi pertimbangan penting bagi penetapan suku bunga The Fed. Pemangkasan suku bunga menjadi pilihan untuk mengurangi beban ekonomi rumah tangga sekaligus menstimulasi penciptaan lapangan kerja. Pilihan ini cukup urgen dilakukan sebagai bagian dari strategi pemulihan ekonomi pasca berakhirnya shutdown.

Baca Juga: Shutdown Pemerintahan AS Berakhir: 5 Reaksi Pasar Yang Perlu Dicermati!

Pertumbuhan Ekonomi Melambat

Perlambatan pertumbuhan ekonomi juga menjadi faktor pertimbangan yang penting bagi keputusan suku bunga yang akan diambil oleh The Fed. Bukti dari perlambatan tersebut adalah kontraksi yang terjadi pada sektor manufaktur dan jasa.

Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) untuk sektor manufaktur dan jasa saat ini menunjukkan angka yang mendekati atau bahkan di bawah 50.  Angka ini menunjukkan bahwa kontraksi ekonomi terjadi dan pertumbuhan ekonomi melambat. Banyak faktor berkontribusi pada perlambatan ini, tetapi faktor utamanya adalah konsekuensi dari kebijakan suku bunga The Fed yang masih dianggap tinggi waktu sebelumnya sehingga berimbas negatif pada sektor usaha riil. Efeknya tentu membuat kegiatan investasi dan produksi melambat.

Ekspektasi Pelaku Pasar Juga Mendukung Pelonggaran

Ekspektasi pasar di AS terhadap pelonggaran suku bunga menjadi 3,50-3,75 telah mencapai 82.3%. The Fed sangat mempertimbangkan ekspektasi pasar dalam pengambilan keputusan terkait dengan suku bunga. Pada keputusan-keputusan seblumnya, tidak ada preseden bahwa The Fed membuat keputusan yang menyimpang dari ekspektasi pelaku pasar.

Berdasarkan 4 fakta tersebut, maka probabilitas The Fed untuk memangkas suku bunga adalah sangat tinggi. Tingkat suku bunga akan lebih rendah dan ini berarti likuiditas globala kan meningkat.

Implikasi bagi Perdagangan Saham di Indonesia (IHSG)

Prediksi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga di Desember 2025 adalah sinyal dimulainya kembali era likuiditas global yang melimpah. Berbagai implikasi pada pasar modal dan kondisi investasi di tanah air perlu diantisipasi.

Tingkat suku bunga AS yang lebih rendah akan memicu terjadinya arus masuk modal asing pada pasar investasi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Fund manager internasional akan masuk dan membeli saham-saham yang dianggap potensial untuk memberikan gain yang lebih tinggi daripada memarkir dana di negaranya.

Arus masuk modal asing ini diperkirakan akan meningkatkan aksi beli oleh investor institusi. Sasarannya biasanya dalah saham-saham blue-chips dengan kapitalisasi pasar dan likuiditas yang tinggi. Efek lanjutannya tentu saja akan memicu terjadinya penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang selama ini telah bertengger pada angka 8632.***

Tagged:
nilai saham
error: